Titik Nol K3mkmuran

_Catatan Ki Iding Banten_

*TITIK NOL KEMAKMURAN*

Kemakmuran tak terhingga sudah ada dalam diri setiap manusia, terus berlipat ganda saat rasa syukur menjadi bingkai kehidupan.

Setelah bismillah surat Al-fatihah dilanjutkan dengan kalimat Alhamdulillah. Sebuah formulasi terbaik dari Allah untuk menggambarkan hanya ada kata syukur yang boleh ada dalam perasaan, Fikiran dan gerak tubuh manusia. 

Kenapa? 

Semua yang ada pada manusia adalah karunia dari Allah. 

Hidup anda, tubuh anda, perasaan dan Fikiran anda dari Allah dan dalam kendali Allah. 

Semesta yang berkaitan dengan anda, semua dari Allah dan dalam kendali Allah.

Hati manusia yang terkait dengan Anda, semua milik Allah dan dikendalikan oleh Allah. 

Saat anda berkeinginan untuk suatu keperluan atau maksud, maka pilihan dari keinginan itu datang dari Allah, juga terpenuhinya keinginan itu digerakkan oleh Allah dari berbagai sudut dan dimensi yang dikehendaki oleh Allah. 

Saya menulis ini, tak lepas dari Rahmat dan karunia Allah. 

Hebatnya lagi, kita dipersilahkan oleh Allah untuk meminta apa saja yang kita mau dan Allah pasti kabulkan. 

(وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَظَلُومࣱ كَفَّارࣱ)
[Surat Ibrahim 34]

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Ternyata hidup kita sudah makmur dan tak kurang satu apapun. 

Anda ingin lebih makmur? 

Hanya bersyukur jalan satu-satunya untuk menambah kemakmuran. 

Kenapa banyak orang bangkrut? 

Sebab utamanya pasti, karena tidak bersyukur atau kufur nikmat. 

Perhatikan ayat sakti dibawah ini : 

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ)
[Surat Ibrahim 7]

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."

Lalu sebenarnya apa yang harus dilakukan, agar kemakmuran terus bertambah dan berlipat ganda? 

Nyatakan bentuk syukur dari awal sadar sampai Tidur lagi. 1. Minta kepada Allah agar diberi sifat syukur. 
2. Rasakan bersyukur sebagai kenikmatan dalam diam dan gerak. 
3. Fikirkan dimensi syukur dalam berbagai bentuk aktivitas.
4. Gerakan seluruh potensi diri lebih produktif sebagai bentuk syukur nikmat.
5. Selaraskan diri dengan semesta yang selalu Taslim, patuh, sujud dan tak pernah berhenti beribadah kepada Allah. 

Lima saja, InsyaAllah menguatkan tekad untuk menjadi Abdan Syakirin sepanjang usia. 

Barokallahu fikum
Bandung, 05 November 2020

30 Prediksi Perilaku Konsumen di NEW NORMAL


30 Prediksi Perilaku Konsumen di NEW NORMAL

By: Yuswohady
April 23, 2020 

Berikut ini adalah 30 prediksi saya mengenai perubahan perilaku konsumen di kenormalan baru (New Normal) selama dan setelah COVID-19 berlalu.
  

#1. The Fall of Mobility, The Rise of Stay @ Home
Wabah praktis menghentikan mobilitas dan memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. "the death of mobility". Krisis COVID-19 membawa manusia seperti kembali ke zaman purba dimana hidupnya hanya di gua, yaitu rumah. "Welcome stay @ home economy."

#2. Online-Shopping Widening+Deepening: From Wants to Needs
Pembelian online (online shopping) mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs). Belanja online konsumen melebar (widening) dari barang-barang non-esensial ke esensial (daily needs). Dan mendalam (deepening) dimana volume pembeliannya makin besar. 

#3. Food Delivery: From "Indulgence" to "Utility"
Konsumen menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery. Selama ini konsumen memanfaatkan layanan delivery untuk jenis makanan "indulgence" yaitu untuk pleasure dan enjoyment (seperti: boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek) akan bergeser ke "utility" untuk kebutuhan rutin sehari-hari. Dari pemesanan sesekali (occasional) ke pemesanan berulang (habitual/routine).

#4. The Comeback of Home Cooking
Memiliki waktu cukup luang di rumah selama pandemi memberikan kesempatan bagi milenial mengasah keahlian baru yaitu masak. Dalam Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan milenial "membunuh" home cooking karena emak-emak milenial semakin kehilangan kemampuan memasak. Namun rupanya COVID-19 "menghidupkannya" kembali. 

#5. Frozen Food: Convenience Solution
Emak-emak milenial sudah terlanjur tidak piawai memasak. Walaupun stay @ home menjadi momentum comeback-nya kebiasaan memasak, namun gaya memasak milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka memasak yang simple dan convenient. Maka frozen food dan kemasan ready to cook akan menjadi pilihan. 

#6. Going Omni
Dengan matangnya online shopping akibat COVID-19, maka brand-brand besar-menengah-kecil mulai hadir dengan platform omni channel-nya sendiri baik via website atau e-commerce dan tentu physical channels. Mereka tak bisa lagi cuma mengandalkan marketplace besar yang sudah ada. Ingat, customer data is the new gold.

#7. Subscription Model Matters
COVID-19 memaksa konsumen membeli dan mengonsumsi secara serba online: Belanja grocery, menikmati film/musik, membeli makanan, bekerja dan belajar, bermain games, bahkan berolahraga dan yoga pun melalui live class secara online. Tak hanya, belanja online itu dilakukan secara rutin tiap hari atau berkala tiap minggunya. Karena kebutuhannya rutin dan terus menerus, model pembelian berlangganan akan lebih cocok dan efisien. Subscription model will matter.

 #8. TV Strikes Back
Dalam buku Milenial Kills Everything (2019) kami mengatakan bahwa milenial telah membunuh televisi. Tapi, COVID-19 telah menghidupkannya kembali, khusunya smart TV. TV memiliki keunggulan dasar yang tak mungkin dimiliki smartphone yaitu layar besar yang lebih ramah dilihat. Karena itu memasuki era "the death of mobility" akibat social distancing, TV menemukan momentumnya kembali. 

#9. DIY & Self-Care @ Home
Ketika konsumen sudah terbiasa dengan stay @ home maka mereka mulai mencoba berbagai hal baru yang menyenangkan. Salah satunya melakukan self-care atau peremajaan diri seperti facial, meni-pedi, spa. Maka tren do it yourself (DIY) ini dapat menjadi kenormalan baru dan pembelian produk-produk self-care secara otomatis mengalami kenaikan. 

#10. Zoomable Workplace @ Home
Work from Home memunculkan tren baru "zoomable workplace" di rumah. Kalau sebelumnya populer istilah "instagramable" maka kini ada istilah tempat kerja di rumah yang "zoomable". Tren ini dipicu oleh popularitas aplikasi Zoom untuk meeting virtual. Mendekorasi ruang kerja yang eye-catching sebagai background meeting. IKEA atau Informa bakal makin ramai pembeli. Tanpa disadari hal ini telah menjadi kebutuhan self-esteem. 

#11. "Work-Live-Play" Balance: Well-Being Revolution
Ketika work from home (WFH) dan flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, maka batas waktu antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan parenting ke anak (living), dan menikmati leisure time (playing) menjadi kian kabur. Karena karyawan mengatur waktunya sendiri, maka mereka bisa mengatur keseimbangan working-living-playing dengan lebih baik. Hal ini akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan hidup (well-being). 

#12. The Century of Self Distancing
Begitu wabah COVID-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru. Akankah cipika-cipiki atau jabat-tangan punah dari muka bumi?  

#13. Contact-Free Lifestyle
Self distancing yang permanen akan melahirkan gaya hidup baru yaitu: "contact-free lifestyle". Belanja dilakukan secara online untuk menghindari paparan virus. Menerima barang dari layanan antar cukup di depan pintu tanpa kontak fisik. Menghindari kerumunan seperti nonton konser musik atau event olahraga yang syarat kontak fisik. Menghindari olahraga yang "contact-intensive" seperti gulat, tinju, karate, bahkan sepakbola. Jarak antar kursi di pesawat atau bioskop akan lebih lebar. 

#14. Low-Trust Society
Krisis Covid-19 juga turut membuat kecurigaan antar warga meningkat di masyarakat. Beberapa kasus penolakan jenazah positif COVID-19; pengusiran tenaga kesehatan karena takut tertular; atau penolakan pemudik oleh masyarakat di kampung saat lebaran, menciptakan kondisi yang saya sebut "low-trust society". Social distrust di antara anggota masyarakat akan semakin tinggi.

#15. Constantly-Fear Customers
Di tengah krisis dan ketidakpastian. Orang mengalami kekacauan mental healthiness sehingga menjalani hari-hari dalam ketakutan. Takut akan krisis ekonomi, takut kehilangan pekerjaan, takut usaha bangkrut, takut tak mampu bayar hutang bank, takut diri dan keluarga terpapar virus, dan puncaknya takut terenggut nyawa. 

#16. Jamu Is the New Espresso
Jamu menjadi minuman yang paling banyak dicari saat ini. Ketika para ahli mengatakan bahwa mpon-mpon yang merupakan bahan dasar minuman jamu dapat menangkal virus COVID-19, jamu langsung laris manis di pasaran. Wabah COVID-19 menjadikan jamu sebagai lifestyle. Jamu is the new espresso. 

#17. Halal (Thoyyiban) Becomes Mainstream
Kita tidak tak akan pernah lupa dengan kota Wuhan terutama pasarnya yang menjadi awal mula penyebaran virus. Khususnya kaum muslim, bayangan muram pasar Wuhan adalah wujud dari penyiapan dan pengolahan makanan yang tidak mengikuti prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. Maka COVID-19 pun membawa hikmah bagi kaum muslim, yaitu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya halal dan thoyyiban.

#18. Paylater Solution
DI tengah kecemasan dan ketidakpastian akibat COVID-19, sebisa mungkin konsumen membatasi atau menunda pengeluaran yang bersifat cash. In time of crisis cash is king. Maka layanan paylater yang diberikan oleh bank, perusahaan fintech, dan platform ecommerce seperti GoPay, OVO, atau Tokopedia menjadi solusi bagi konsumen untuk berbagai transaksi. 

#19. The Future of Traveling
Bahkan ketika ancaman virus terus mengintai, kita tetap akan berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Travellers kian sadar melakukan self social distancing. Karena itu staycation dan wellness tour akan menjadi pilihan. Travelling kian menjadi aktivitas individual bukan lagi grup. Niche tourism lebih berkembang daripada mass tourism. Dan virtual tourism dengan teknologi VR (virtual reality) akan berkembang pesat.  

#20. Virtual Experience Is the Nex Big Thing
Konser musik, event olahraga, hingga konferensi/pameran dibatalkan di seluruh dunia. Sebagai gantinya: virtual concert, virtual sport, virtual conference/seminar, virtual exhibition. Ketika self distancing bakal berlangsung lama, maka virtual experience akan menjadi sesuatu banget. Keunggulannya: "more efficent, more convenient, more personal".

#21. The Emerging VirSocial
Aktivitas bersama-sama baik nongkrong, olahraga, senam, meditasi dan yoga, hingga nge-game dilakukan secara virtual. Kami menyebutnya "VirSocial" (virtual social). Beberapa minggu terakhir misalnya, marak aktivitas "nongkrong" temen-teman sekantor, sekampung, sekomunitas, atau sesama alumni SD hingga kuliah yang dilakukan via Zoom. Ini adalah kebiasaan baru yang sebelumnya tak dikenal.  

#22. Flexible Working Hours: From "9-to-5" to "3-to-2"
Dalam buku Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan, ke depan milenial "membunuh" jam kerja "9-to-5". Rupanya Covid-19 membunuhnya lebih cepat. Dengan work from home (WFH), karyawan bereksperimen menjalankan pola kerja flexible working hour (FWH). Maka jam kerja "9-to-5" nantinya akan berubah menjadi "3-to-2" yaitu jam kerja 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah dalam seminggu. 

#23. The Birth of Zoom Generation
Kalau generasi milenial sering disebut "Instagram Generation" dan Gen-Z adalah "Snapchat Generation". Maka setelahnya, kita akan menyongsong lahirnya "Zoom Generation". Kalau generasi milenial dan Gen-Z tumbuh di tengah keajaiban teknologi digital (internet, media sosial, tech startup), Generasi Zoom tumbuh di tengah dunia yang rapuh oleh ancaman pandemi dan risiko hidup yang tinggi. Maka Zoom menjadi "the new Google".

#24. Cloud Lifestyle
Kebiasaan baru work from home, tuntutan collaborative working, dan maraknya gig economy akan mendorong melonjaknya penggunaan platform sharing yang tersedia via cloud. Maka konsumsi layanan cloud baik SaaS (software as a services), IaaS (infrastructure as a services), PaaS (platform as a services) akan masuk babak baru pertumbuhan eksponensial. Tren ini akan memunculkan cloud lifestyle dimana karyawan bisa bekerja dengan aplikasi dan data yang tersimpan di cloud dan bisa diakses di manapun dan kapanpun. 

#25. Telemedicine: from Visit to Virtual
Blessing in disguise, krisis pandemi akan menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan yaitu telemedicine dan virtual health. Seperti halnya remote working dan online learning, konsumen dipaksa untuk mengadopsi gaya baru berobat yaitu secara virtual. 

#26. Online+Home-Schooling
COVID-19 memicu dua tren sekaligus dalam proses pembelajaran. Pertama pembelajaran secara online ("online-schooling") dengan menggunakan platform digital. Kedua peran orang tua yang semakin besar dalam proses pembelajaran anak ("home-schooling"). Saya menyebut dua tren ini: "online+home-schooling". Online+home-schooling mengubah secara mendasar wajah dunia pendidikan ke depan.

#27. Ibadah Virtual
COVID-19 turut mengubah perilaku masyarakat dalam beribadah. Sholat berjamaah sementara tidak bisa dilakukan, begitu pula kebaktian atau ibadah di gereja. Solusinya adalah melakukan ibadah secara virtual. Untuk umat Nasrani bisa melakukan ibadah secara virtual dengan live streaming. Bagi umat muslim sholat jamaah di masjid diganti dengan sholat di rumah. Namun, dakwah atau pengajian masih bisa dilakukan secara virtual.

#28. The Rise of Empathy and Solidarity
Krisis COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar. Hikmahnya, COVID-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. COVID-19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera. 

#29. From Drone Parenting to Positive Parenting
COVID-19 bahkan mengubah pela pengasuhan anak (parenting style). Ketika work from home memungkinkan orang tua banyak berkumpul dengan anak, maka pola pengasuhan yang efektif adalah "positive parenting" dimana orang tua secara proaktif menjelaskan perilaku yang baik dan dan mengajak anak untuk sama-sama memahami situasi sulit ini. Ini berbeda dengan "drone parenting" ala milenial yang membebaskan anak untuk mengeksplorasi banyak hal sementara orang tua memantau dari jauh.

#30. More Suffering, More Religious
Di tengah krisis COVID-19, agama menjadi tempat bersandar mencari ketenangan sekaligus harapan. Sebagian besar masyarakat menganggap krisis ini adalah bencana atau hukuman yang diberikan Tuhan, bahkan dianggap tanda-tanda hari akhir akan tiba. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, cobaan COVID-19 semakin mendekatkan mereka kepada Tuhan. Karena di tengah wabah ajal bisa setiap saat datang maka mereka memperbanyak amal-ibadah untuk bekal ke akherat. 

 Monggo 👆 daging semua

SOS

Low profil lebih BIJAKSANA dibanding pamer KELEBiHAN.

Airbus 380 sedang dalam perjalanan melintasi Atlantik. 
Ia terbang secara konsisten pada kecepatan 1000 km / jam pada ketinggian 36.000 kaki, ketika tiba-tiba sebuah Eurofighter dengan kecepatan Mach 2 muncul. 
Pilot jet tempur ini kemudian melambat, terbang mensejajari Airbus dan menyapa pilot pesawat penumpang dengan radio: 
"Hallo Airbus, Apa kabar?
Tampaknya penerbanganmu agak membosankan ya?
Coba lihat atraksi saya!".
Dia lalu memutar jetnya dengan berbalik ke atas,
meningkatkan kecepatan menerobos kecepatan suara, naik dengan cepat 
ke ketinggian yang membuat kepala pusing, 
lalu menukik turun ke permukaan laut dengan gaya penyelaman yang menakjubkan. 
Dia kembali ke samping Airbus dan bertanya, 
"Hai, bagaimana atraksiku?" 

Pilot Boeing menjawab: 
"Sangat mengesankan, 
tetapi sekarang coba lihat atraksi saya." 

Pilot jet memperhatikan Airbus tsb, tetapi tidak ada yang terjadi. 
Pesawat itu tetap terbang dengan kepala lurus, 
dengan kecepatan membosankan yang sama. 

Setelah lima menit, pilot Airbus berbicara melalui radio, 
"Nah, bagaimana pendapatmu?" 
Pilot jet bertanya bingung: 
"Apa sih yang sudah kamu lakukan?" 
Pilot Airbus tertawa dan berkata, 
"Saya bangkit dari kursi saya, merentangkan kaki,
pergi ke belakang pesawat 
ke kamar mandi, membuat secangkir kopi dan mengudap kue kayu manis.
Selanjutnya saya akan bersantai selama tiga malam berikutnya di sebuah hotel bintang 5, yang dibayar oleh majikan saya." 

Moral dari cerita ini adalah: 
Ketika Anda masih muda, 
kecepatan dan adrenalin tampak keren. 

Tetapi seiring dengan bertambahnya usia maka yang keren adalah jika Anda semakin bijaksana,
merasa nyaman dengan usia Anda, dan penuh kedamaian dalam hati. 

*Ini yang disebut S.O.S:*
*Slower (Lebih Lambat),*
*Older (Lebih Tua),*
*Smarter (Lebih Cerdas).*
 
Didedikasikan untuk para oldies , baik yang rela mau pun yang tidak rela, untuk memahami bahwa sebenarnya tidak ada yang baru di bawah matahari atau tidak ada lagi yang perlu kita buktikan. 

Be cool with your age and condition. 
Saat ini yang penting bukanlah bagaimana dunia melihat atau memahami Anda tetapi bagaimana memperoleh kedamaian dalam diri kita.

Copas The Wisdom Success & Motivation.

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut

M m_Theodore P. Rachmat Speech_
Lifetime Achievement Award
Ernst & Young, 2019
 
 
*"TO WHOM MUCH IS GIVEN, MUCH IS REQUIRED"*
 
 
Hadirin dan para talenta muda yang saya kasihi dan saya hormati,
 
Sungguh menjadi sebuah kehormatan bagi saya, dapat berdiri di sini, di hadapan talenta-talenta muda Indonesia yang berbakat, hebat, dan berprestasi. Orang-orang pilihan yang akan menjadi harapan dan tulang punggung bangsa di masa depan. Yang akan menjadi penerus estafet antar generasi dalam mewujudkan cita-cita mulai membangun dan mewujudkan Indonesia yang Raya.
 
Dalam kesempatan yang baik ini, ijinkan saya untuk berbagi tentang beberapa hal yang sederhana, tapi rasanya penting dan tepat untuk saya bagikan kepada Anda semua.
 
Sebuah ayat dalam Kitab Suci yang saya yakini, menyatakan demikian:
 
"To whom much is given, much is required."
"Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut."
 
Saya yakin, semua yang berada di ruangan ini setuju bahwa kita adalah manusia yang diberi begitu banyak anugerah oleh Tuhan. Saya juga demikian.
 
Perjalanan hidup saya, sepenuhnya dan seluruhnya adalah berkat Tuhan. Suka dan dukanya, gagal dan berhasilnya, sehat dan sakitnya, kaya dan miskinnya. Sepenuhnya dan seluruhnya adalah berkat Tuhan.
 
Dan karenanya, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita, untuk sebisa mungkin membagikan berkat yang telah Tuhan berikan bagi keluarga, perusahaan, masyarakat, terlebih bangsa Indonesia. Bangsa yang telah memberikan begitu banyak kesempatan bagi kita semua.
 
Sebagai wujud terima kasih yang tulus dan dalam atas penghargaan yang diberikan, dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan 3 hal sederhana. Tiga hal yang besar peranannya dalam kehidupan saya, dan mendorong saya untuk terus berbagi dan berkarya bagi Indonesia.
 
Yang pertama adalah LEARN FROM MISTAKES AND FAILURES.
 
Pengalaman hidup membuat saya sampai pada kesimpulan, bahwa justru berbagai kesalahan dan kegagalan dalam hiduplah, yang paling berharga dan menjadi pendorong kita untuk terus berupaya menjadi the better version of us. Mempelajari kenapa kita salah ambil keputusan atau kenapa kita gagal, membuat kita tidak terbawa pada kesalahan dan kegagalan yang sama. Sebaliknya, merayakan keberhasilan atau kemenangan terlalu lama, hanya akan menumpuk rasa bangga dan puas diri, yang membuat kita terlena.
 
Yang kedua adalah MINDSET.
 
Pola pikir mempengaruhi dan melandasi perilaku manusia. Pola pikir membedakan manusia dari ciptaan Tuhan yang lain. Pola pikir adalah pilihan bebas manusia, namun pola pikir yang keliru dapat membelenggu manusia. Membawa manusia pada sikap dan perilaku negatif. Ada fixed mindset, ada growth mindset. Fixed mindset menempatkan manusia pada posisi pasif, bergantung pada nasib dan keberuntungan. Growth mindset, membawa manusia pada posisi yang lebih aktif, optimis, dan keyakinan bahwa daya upaya akan lebih menentukan daripada nasib atau keberuntungan semata. Fixed mindset memenjarakan, growth mindset membebaskan.
 
Yang ketiga adalah VALUES.
 
"We have to change with changing time, but we have to hold on to unchanged values."
 
Kata-kata bijak dari sahabat saya, almarhum Benny Subianto itu saya yakini benar. Kita harus terus berubah dan beradaptasi sejalan dengan waktu, namun kita juga harus berpegang teguh pada nilai-nilai luhur. Meluncur terus ke depan, tetapi dengan kaki yang kokoh berpijak pada prinsip-prinsip kehidupan.
 
Integrity and Ethics, Excellence, Compassion, dan Humility.
 
Keempat nilai luhur itu yang saya coba pegang teguh sepanjang hidup saya.
 
Diantara keempat nilai inti itu, Humility yang sungguh tidak mudah untuk dipraktekkan. Humility berakar dari kesadaran bahwa selayaknya kita menempatkan kepentingan yang lebih mulia di atas kepentingan pribadi.
 
Semakin pandai, kaya, dan kuat, semakin besar godaan untuk tidak bersikap humble. Godaan yang apabila tidak kita kendalikan, akan membawa kita pada kondisi stagnan, serakah, dan merasa diri sebagai pusat dunia. Humility membangun keberanian untuk menerima masukan yang jujur. Humility mendorong terjadinya proses perbaikan diri yang konstan. Humility membuat kita menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan kita pribadi.
 
Humility membangun keikhlasan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Humility tidak berpamrih, tidak mencari panggung dan kehormatan diri. Humility membangun diri kita menjadi orang yang toleran terhadap perbedaan dan keberagaman.
 
Less for self, more for others, enough for everyone.
 
Bapak dan Ibu yang saya hormati, kembali pada judul sharing saya hari ini:
 
"TO WHOM MUCH IS GIVEN, MUCH IS REQUIRED".
 
Saya yakin, kita semua sepakat, bahwa kita adalah manusia yang banyak mendapatkan anugerah dari Tuhan. Saya mengingatkan diri saya sendiri dan saudara-saudara semua, untuk lebih mudah bersyukur dan terus berupaya berbagi bagi sesama, dalam bentuk dan skala apapun.
 
Setiap kita punya panggilan dan tanggung jawab moral yang sama untuk berbagi, menolong orang lain. Terlebih sebagai anak bangsa, yang lahir dan berkarya di Indonesia. Patut kiranya kita juga ambil bagian dalam upaya besar mewujudkan Indonesia yang Raya. Indonesia yang lebih sejahtera, bermartabat, dan bersatu meski berbeda.
 
Anak-anakku, talenta muda Indonesia yang saya banggakan. Teruslah membangun diri, jangan cepat puas, dan selalu ingat untuk menjadi bagian yang aktif dalam memecahkan masalah bangsa. Teruslah berkarya membangun negeri.
 
Para senior yang saya hormati, yang sudah lebih berpengalaman menghadapi hidup, saya mengajak Anda semua untuk terus menjadi PANUTAN dan memberikan KEPERCAYAAN serta KESEMPATAN seluas-luasnya kepada generasi baru untuk lebih berperan dalam menyongsong masa depan.
 
Akhir kata, sekali lagi, terima kasih yang dalam dan tulus atas penghargaan yang diberikan. Semoga juga bisa menjadi pendorong dan inspirasi bagi kita semua.
 
 
 
Jakarta, 13 November 2019
TP. Rachmat

Fwd:




*IMAM MALIK & IMAM SYAFI'I*

*_"Guru Dan Murid Tertawa Karena Beda Pendapat ttg REZEKI_*
.
Imam Malik ( guru Imam Syafii ) dalam majlis menyampaikan :

*Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya.*
.
Sementara Imam Syafii ( sang murid berpendapat lain) :

*Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.*

*_Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya._*
.
Suatu saat tengah meninggalkan pondok, Imam Syafii melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

*Imam Syafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.*
.
Bergegas dia menjumpai Imam Malik sang guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. . Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat  *"seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya."*
.
Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan.
*"Sehari ini aku memang tidak keluar pondok...hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.* ......Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. *Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya."*
.
Guru dan murid itu kemudian tertawa. Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.
Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja..

Semoga bermanfaat....

Tukang Ojek Jadi Pemimpin tertinggi ddu

BENDERA TERTINGGAL
Oleh: Ustadz Budi Ashari, Lc

Muhammad bin Abi Amir (326 H – 392 H) atau yang dikenal saat memimpin dengan sebutan Al Hajib Al Manshur. Pemimpin Andalus terbesar dan terhebat. Hanya Abdurahman An Nashir yang disebut oleh para ahli sejarah yang mampu menyaingi kehebatan kepemimpinanannya di Andalus.

Wajar, kalau ia seperti itu. Walau tadinya hanya bekerja sebagai seorang Hammar (yang menyewakan Keledai untuk mengangkut barang di pasar) dan tinggal di rumah kos bersama teman-teman seprofesinya di pojok Kota Cordova, ibukota Andalus. Tetapi yang membedakan dirinya dan teman-temannya adalah setelah penat bekerja seharian hanya sebagai Hammar, ia pergi ke masjid raya Cordova untuk duduk bersama para ahli ilmu. Begitulah ia jalani hari-harinya hingga ia menjadi ahli ilmu. Dan ilmu serta iman lah yang mengangkat seseorang di dunia dan di akhirat.

Singkat cerita, ia meniti karir sebagai polisi hingga menjadi kepala polisi Andalus, kemudian menjadi pengawal pemimpin Andalus yang masih kecil sampai akhirnya resmi menjadi pemimpin tertinggi Andalus. Subhanallah....agar kita tahu, kebesaran bukan milik orang-orang berharta.

Saat ia memimpin. Ilmu, iman dan jihad adalah merupakan wajah aslinya. Dia sangat sering memimpin sendiri jihad melawan musuh Allah. Hingga ia begitu dekat dan merakyat. Maka tak heran jika kepemimpinannya adalah kebesaran.

Di tangan pemimpin seperti inilah, musuh Islam sangat segan dan takut kepada kekuatan muslimin. Muslimin masuk ke benak mereka sebagai sebuah kekuatan yang tak mungkin ditandingi seakan datang dari negeri dongeng.

Suatu saat pasukan muslimin memasuki wilayah masyarakat kafir. Kebiasaan pasukan muslimin saat memasuki wilayah perang, mereka menancapkan bendera di tempat tinggi. Dan bendera itu akan dicabut saat mereka meninggalkan wilayah tersebut. Maka pasukan pun menancapkan bendera-bendera di bukit-bukit dan di tempat yang tinggi.

Muslimin mencoba memasuki wilayah itu tanpa ada perlawanan apapun.Dan ternyata benteng-benteng tersebut telah kosong. Tak ada satupun penghuninya. Para penghuni telah kabur, karena mendengar pasukan muslimin mau datang ke wilayah mereka. Mereka berpencaran ke lembah-lembah di sekitarnya.

Karena tak ada penghuni, pasukan muslimin pun meninggalkan wilayah tersebut. Bendera-bendera dicabuti. Tapi seorang tentara muslim lupa mencabut sebuah bendera yang ditancapkan di bukit.

Para penghuni wilayah tersebut mengawasi terus wilayah mereka itu. Walaupun pasukan muslimin telah meninggalkan wilayah mereka beberapa hari yang lalu, tapi mereka tak kunjung kembali ke rumah-rumah mereka.

Apa pasalnya? Bendera tertinggal itu. Mereka menduga bahwa pasukan muslimin masih ada di benteng-benteng mereka, dengan bukti sebuah bendera yang tertinggal di puncak bukit.

Begitulah keadaan berhari-hari. Hingga mereka yakin bahwa muslimin telah pergi dan ternyata hanya bendera yang tertinggal.

Para ahli sejarah pun menyebut perang ini dengan Perang Ar Royah (Bendera). (Lihat: Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar h. 236)

Begitulah izzah. Sekali lagi, izzah bukan karena jumlah yang banyak, juga bukan karena harta yang melimpah. Tetapi karena izzah itu hanya milik Allah semata. Tak ada yang memiliki selain Dia. Dan diberikannya kepada Rasul dan orang beriman.

Sayang banyak yang tak percaya. Sehingga mengejar izzah itu bersama orang-orang kafir dan konsep-konsep mereka.

Sayang, ada yang telah percaya konsep Islam tapi kurang memiliki keberanian untuk menerapkannya. Lagi-lagi, karena urusan dunia atau pasar.

Sayang, ada yang yakin, mencoba tapi setengah hati. Hingga ketika badai menerpa, ia pun kembali ke pantai lama. Jika demikian keadaan kita, bagaimana izzah mau hadir untuk kita? Mana mungkin kita bisa mendapatkan anak-anak penuh izzah yang tidak goyah oleh zaman dan lingkungannya.

Bandingkan dengan kisah di atas. Hanya sebuah bendera. Ya, selembar kain kecil. Bahkan hanya secarik kain kecil yang tak sengaja tertinggal. Tapi begitulah. Izzah bekerja di hati orang-orang kafir.

Tak perlu generasi ini yang hadir untuk mendatangi mereka. Hanya berita tentang generasi kita, hanya karya mereka, hanya perlengkapan yang mereka miliki. Tapi itu cukup untuk mengirimkan wibawa muslimin kepada mereka.

Saat itulah, keluarga-keluarga muslim berlomba melahirkan generasi sebanyak dan sehebat mungkin. Saat itulah, hampir tak ada orangtua yang khawatir peradaban kafir mempengaruhi anak-anak mereka. Saat itulah, yang ada adalah mempengaruhi dan mengarahkan dunia.

Inilah kisah izzah muslimin. Dan masih banyak sekali kisah-kisah semisal ini. Generasi penuh izzah. Bukan generasi imma'ah (ikut-ikutan).
***
Maka ini bukan sekadar bendera.  Tapi merupakan bagian dari izzah kaum muslimin.

Kebahagiaan

125- اَللَّهُمَّ ..أَنْتَ حَسْبِي وَنعمَ الوَكيْلُ. وَانْتَ مَوْلَایَ وَنِعْمَ النَّصِيْرُ..
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَنْتَظِرُ مِنْكَ بِشَاَرَةَ خَيْرٍ فَلَا تُؤَجِّلْهَا. وَعَجِّلْ بِهَا يَا أَكْرَمَ الأكْرَمِيْنَ. اَللّهمَّ يَا ربّي.
بَِّشرْنِي بِماَ يَسُرُّنِيْ وَأنتَ خَيْرُ المُبَشرِيْنَ. وصلی الله علی سيدنا محمد واله وصحبه وسلم . 

ALLOHUMMA.Engkaulah Yang Maha Mencukupi..kami.Dan Engkaulah..
Sebaik baik Dzat Yang Menjadi Wakiil..
ALLOHUMMA. YA ALLOH ,,,,,....
Engkaulah.. Tuhan Kami. Sebaik baik Dzat Penolong .
ALLOHUMMA YA ALLOH..
Sungguh kami menunggu kegembiraan terbaik dari
MU ,:
* Janganlah Engkau menundanya..segerakanlah..YA Alloh..YA Akromal Akromiin.Sang MAHA PEMURAH..
ALLOHUMMA YA ROBBY..
* Gembiraknlah kami dengan apapun yang menyenangkan kami. Sungguh hanya Engkaulah Pemberi kegembiraan Terbaik. Washollallohu..alaa 
Sayyidina Muhammad wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan