Cinta nikah bahagia

Memaknai Cinta, Pernikahan dan Kebahagiaan

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Mari kita belajar dari Plato dan Socrates untuk memahami makna cinta, pernikahan dan kebahagiaan.

1. Makna Cinta

Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya, Socrates, tentang makna cinta.

Socrates: Pergilah ke ladang, petik dan bawalah setangkai gandum yang paling besar dan paling baik, tapi ingat satu hal, kamu hanya boleh berjalan satu arah. Setelah kamu lewati kamu tidak boleh kembali dan kesempatanmu hanya sekali.

Plato melalukan apa yang diminta, tetapi dia kembali dengan tangan kosong.

Socrates : Kenapa engkau kembali dengan tangan kosong?

Plato: Aku melihat beberapa gandum yang besar dan baik saat melewati ladang, tetapi aku berpikir mungkin ada yang lebih besar dan lebih baik dari yang ini, jadi aku melewatinya saja. Namun ternyata aku tidak menemukan yang lebih baik dari yang aku temui di awal, akhirnya aku tidak membawa satupun.

Socrates : Itulah cinta.

******

Ya, cinta itu terus mencari yang terbaik, dan ternyata tidak ada yang terbaik. Manusia terus berjalan mencari cinta, namun ia selalu menghendaki sesuatu yang lebih, hingga akhirnya mereka mendapatkan kehampaan. Manusia selalu membandingkan, selalu merasa tidak puas, selalu dilanda kegelisahan. Mereka terus mencari, namun tidak pernah mendapatkan, karena menghendaki yang "lebih" dari apa yang ada.

Kecuali jika mereka berlabuh pada cinta karena Tuhan. Maka mereka mendapatkan jawaban.

Mencintai karena pertimbangan yang bercorak material --seperti kecantikan, ketampanan, kekayaan, kedudukan, pangkat, jabatan, fasilitas, popularitas, dan lain-lain-- sah-sah saja. Namun jika hanya karena pertimbangan itu cinta dilabuhkan, maka tidak pernah ada pelabuhannya. Tidak pernah ada muaranya. Cinta hanya akan membawa kepada kesengsaraan dan kehinaan.

Mencintalah karena Tuhan. Maka ada pelabuhan kokoh tempat engkau bersandar. Ada tempat yang lapang dan nyaman agar engkau bisa melabuhkan cintamu tanpa ragu, tanpa pengembaraan yang hampa dan sia-sia.

Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

*************

2. Makna Pernikahan

Pada hari yang lain, Plato bertanya kepada Socrates tentang makna pernikahan.

Socrates: Pergilah ke hutan, potong dan bawalah pohon yang paling tebal dan yang paling kuat, tapi ingat satu hal, setelah kamu lewati kamu tidak boleh kembali dan kesempatanmu hanya sekali.

Plato pergi melakukan apa yang diminta, tapi dia tidak membawa pohon yang tebal dan kuat, dia hanya membawa pohon yang bagus.

Socrates : Mengapa engkau membawa pohon yang itu?

Plato: Aku melihat beberapa pohon yang bagus dalam perjalanan di hutan, tapi kali ini aku belajar dari kasus gandum, jadi aku memilih pohon ini. Karena jika tidak, aku takut kembali dengan tangan kosong lagi, kurasa inilah pohon terbaik.

Socrates : Itulah makna pernikahan.

**************

Menikah adalah bab mengambil keputusan, setelah engkau melakukan proses pencarian. Tidak ada manusia sempurna, selalu ada kekurangannya. Jika engkau melihat gadis cantik, di tempat lain juga ada gadis yang lebih cantik. Jika engkau tertarik pemuda tampan, di tempat lain juga ada pemuda yang lebih tampan.

Engkau hanya memerlukan seseorang yang akan menemanimu, mengerti dirimu, bisa menerima kondisimu, mau menjadi sahabatmu dalam suka dan duka, melewati hidup bersama dalam segala keadaannya. Engkau tidak memerlukan seseorang yang sempurna untuk menjadi suami atau istrimu, karena memang tidak ada lelaki sempurna, tidak ada perempuan sempurna.

Siapapun yang engkau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu, ia selalu memiliki kekurangan. Sebagaimana dirimu pun memiliki kekurangan. Maka jangan pernah berharap kesempurnaan dari manusia. Sebab kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Engkau hanya perlu memutuskan untuk memilih seseorang yang mencintaimu karena Tuhan. Bisa menemanimu untuk beribadah kepada-Nya. Bisa membahagiakanmu dalam bimbingan Tuhan.

***********

3. Makna Kebahagiaan

Dalam kisah "konon" tersebut, Plato kembali bertanya kepada Socrates tentang makna kebahagiaan.

Socrates: Pergilah melewati taman, petiklah bunga yang paling cantik, tapi ingat satu hal, setelah kamu lewati kamu tidak boleh kembali dan kesempatanmu hanya sekali.

Plato pergi melakukan apa yang diminta, dia kembali membawa bunga yang cukup cantik.

Socrates : Apakah ini bunga yang paling cantik?

Plato: Aku melihat bunga ini, lalu memetiknya, dan meyakini ini adalah bunga yang paling cantik. Dalam perjalanan di taman aku melihat sangat banyak bunga yang cantik, namun aku tetap yakin bunga yang aku petik adalah yang paling cantik. Dan aku pun membawanya kemari.

Socrates : Itulah kebahagian.

*********

Engkau merasa bahagia karena engkau puas dengan apa yang engkau miliki. Engkau tidak mengharap-harap apa yang engkau tidak miliki. Engkau bersyukur memiliki pasangan hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Engkau menikmati hidup bersama pasanganmu, belahan jiwamu, kekasih hatimu.

Bahagia itu letaknya ada di dalam jiwa yang selalu bersyukur, hati yang bersih, pikiran yang jernih. Bahagia itu ada dalam ketaatan kepada Tuhan, kecintaan kepada segala ketetapanNya, ridha dengan karuniaNya.

Jika engkau tidak pernah merasa puas dengan apa yang engkau miliki, maka secantik apapun istrimu, setampan apapun suamimu, engkau tidak akan pernah bahagia. Engkau tetap merana dan merasa hampa. Engkau merasa, kebahagiaan adalah milik orang lain. Seakan engkau tidak pernah memilikinya.

Engkau iri dengan orang lain yang istrinya lebih cantik dari istrimu, yang suaminya lebih tampan dari suamimu, yang ekonominya lebih mapan dari ekonomimu, yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukanmu. Maka bagaimana engkau akan bisa mendapatkan kebahagiaan, jika engkau selalu bersikap seperti itu?

***********

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan